Menu

Beberapa tahun lalu, Boss saya tiba-tiba datang kepada saya sambil membawa sebuah majalah. Dengan posisi halaman terbuka, beliau menyuruh saya membaca halaman tersebut. Sambil menunjuk artikel yang beliau maksud.

Dr Dre Headphone Components

Ternyata artikel tersebut membongkar harga asli komponen dari sebuah headphone branded. Profit yang didapat dari sebuah headphone bisa mencapai 10x lipat harga modalnya.

Setelah selesai membacanya, tiba-tiba saya nyeplos, “Keren, terus apa bedanya dengan merek yang biasa-biasa?”. Beliau balik menjawab, “Ngga ada bedanya, semua balik lagi dimana Value lu”.

Sampai di suatu titik, saya mengira Value yang beliau maksud adalah tentang uang. Tapi pada akhirnya saya paham, Value yang dimaksud adalah berapa harga yang berani saya bayarkan untuk menilai sebuah brand tersebut.

Setiap orang akan menaruh Value yang berbeda-beda terhadap headphone tersebut. Dari Value yang berbeda-beda tersebut, akan menentukan keputusan kita dalam membeli headphone tersebut.

Value atau Harga adalah bagaimana cara kita menilai atau memandang sesuatu (bisa berupa benda, pribadi, relasi, atau prinsip-prinsip yang kita pegang). Dari Value yang kita tempatkan atau berikan tersebut, akan menentukan keputusan-keputusan kita.

Anak Bungsu

Di Lukas 15:11-32 diceritakan tentang sebuah perumpamaan anak yang hilang. Anak bungsu pergi meninggalkan bapanya, hingga ia jatuh bangkrut dan memutuskan untuk kembali ke bapanya.

Saat kembali ke bapanya, anak ini memandang dirinya tidak berharga lagi dan menurut pemandangannya, dia hanya pantas untuk menjadi seorang upahan.

Lukas 15:19 – aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Apabila diposisikan sebagai anak bungsu, mungkin akan memiliki pemikiran yang sama. Namun dari sisi bapanya, memandang anak bungsu tetap sebagai anak, sesuatu yang berharga dan bernilai.

Bagi sebagian kita hari ini, mungkin merasa bahwa kehidupan kita seperti anak bungsu, tidak berharga dan tidak bernilai. Tapi hari ini, Tuhan kita memandang kita sebagai sesuatu hal yang berharga.

1 Korintus 6:20 – Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Sebuah bukti bahwa kita berharga hari ini adalah pengorbananNya di kayu salib. Ia mati di kayu salib untuk menebus dosa kita semua. Jangan anggap diri kita tidak berharga lagi.

Prinsip / Dasar

Nilai juga bisa berarti prinsip atau dasar hidup yang kita pegang. Nilai yang kita perjuangan dalam hidup ini.

Sebagai contoh, apabila hari ini kita memiliki integeritas sebagai nilai hidup kita, maka apabila suatu saat ada seorang teman yang mengajak kita untuk korupsi, maka dengan mudah kita akan menolaknya.

Karena kita memandang integeritas kita lebih bernilai dibandingkan korupsi yang kita lakukan. Keputusan kita hari ini ditentukan oleh nilai-nilai yang kita pegang.

Salah Menilai

Pernahkah kita membeli suatu barang yang bernilai tinggi namun dijual dengan harga yang rendah? atau mungkin sesuatu yang bernilai rendah namun dijual dengan harga tinggi?

Apabila hal itu terjadi saya yakin akan ada orang yang dirugikan (bisa dari sisi penjual atau pembeli) karena nilai yang dibayarkan tidak sesuai dengan nilai barang tersebut.

Bagaimana apabila kita salah menilai sesuatu?

Kejadian 25:34 (Terjemahan Baru) – Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

Di ayat diatas, Esau dikatakan memandang rendah hak kesulungannya dan menukarkannya dengan roti dan sup kacang merah.

Ilustrasi Esau dan Yakub

Bagi orang Israel di jaman itu, hak kesulungan adalah hak yang istimewa, dimana anak sulung akan mendapatkan berkat warisan 2 kali lipat porsinya.

Di kisah ini, Esau salah menilai / memandang hak kesulungan sebagai sesuatu yang berharga sehingga ia berani menukarkannya kepada sesuatu yang tidak berharga.

Salah menilai terhadap sesuatu akan membuat kita rugi dan akan membuat kita berbuat sembarangan terhadap sesuatu hal tersebut. 

Conclusions

  • Hidup kita ini sangat berharga (You Only Lived Once!), jangan pernah sia-siakan.
  • Jangan sampai salah meletakkan nilai terhadap sesuatu hal yang tidak benar, karena itu akan merugikan kita.

Akhir kata, biarlah post ini bisa berguna buat yang membaca dan biarlah post ini bisa menjadi reminder buat saya secara pribadi. See You!

Sumber
– Lupa Nama Majalahnya.
– Jeffrey Rachmat, Permainan Cantik.
– Matthew Henry, Tafsiran Kejadian 25:29-34.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *