Menu

Pada suatu waktu hiduplah seoarang ayah dan anak. Suatu hari sang ayah harus membawa pulang pekerjaannya karena belum selesai saat di kantor. Sesampainya di rumah, sang anak meminta sang ayah untuk menemaninya bermain. Hati sang ayah menjadi iba, namun disatu sisi, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.

Saat ingin menolak ajakan bermain anaknya, sang ayah tak sengaja melihat sebuah gambar peta dunia. Kemudian ia terpikir untuk memotong gambar tersebut menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Setelah menjadi potongan-potongan kecil, ia memberikan kepada sang anak dan menyuruhnya untuk menjadikannya sebuah gambar peta dunia yang utuh. Sang ayah berjanji apabila anaknya berhasil menyelesaikan gambar tersebut, ia akan mengajaknya bermain.

Sang ayah berpikir bahwa anaknya yang masih berumur 5 tahun tersebut akan menyelesaikannya dalam waktu 30 – 45 menit. Karena sang ayah tahu betul bahwa anaknya tidak memiliki pengetahuan tentang peta dunia tersebut.

Baru mengerjakan pekerjaan kantornya sekitar 5 menit, sang anak kembali ke ayahnya sambil membawa gambar peta dunia secara utuh. Sang ayah menjadi kaget, bagaimana anak umur 5 tahun tersebut dapat menyelesaikan gambar peta dunia tersebut. Ia tahu betul bahwa sang anak tidak tahu bentuk benua Asia atau Eropa tersebut.

“Kamu pandai sekali anakku, tetapi bagaimana kamu bisa menyelesaikannya padahal kamu belum tahu mengenai peta dunia?”, Tanya Ayahnya.

“Dibalik gambar peta tersebut terdapat gambar wajah, aku menyelesaikan gambar wajah tersebut kemudian membaliknya”, Jawab Anaknya.

Cerita diatas hanyalah sebuah ilustrasi saja, namun ada sebuah hal menarik yang dapat kita ambil hikmahnya. Dalam menyelesaikan sebuah masalah, terkadang kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang lain. Berfokus pada masalah dan tanpa penyelesaian hanya akan membuat kita kehilangan banyak waktu.

Perspective atau Sudut Pandang dalam kehidupan kita sehari-hari dapat diartikan bagaimana cara kita memandang sesuatu yang ada di depan kita.

Yusuf

Di Alkitab, saat Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, ia seharusnya bisa saja marah dan menyalahkan Tuhan atas yang terjadi dalam hidupnya. Tapi Yusuf tidak demikian. Tidak sampai disitu, saat bekerja di rumah Potifar ataupun saat di dalam penjara, Yusuf mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dari sudut pandang kita, mungkin kita bisa memandang apa yang dialami Yusuf sebagai sesuatu hal yang buruk. Tetapi tidak demikian dengan sudut pandang Yusuf.

45:5 Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. 

45:6 Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. 

45:7 Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. 

45:8 Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. 

Di Kejadian 45:5-7, saat Yusuf bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, Yusuf tidak menyebut apa yang dialaminya sebagai suatu bencana. Malahan ia menenangkan saudara-saudaranya agar jangan bersusah hati. Saat itu Yusuf mengerti bahwa apapun yang terjadi dalam hidupnya selama ini tersimpan sebuah rencana besar yang telah Tuhan persiapkan.

Saat Yusuf tidak mempunyai sudut pandangNya Tuhan dan hanya berkutat pada masalahnya, maka Yusuf bisa saja gagal memenuhi panggilannya.

Benih

Tahukah, bahwa sebuah pohon Jeruk yang menghasilkan buah harus diawali dari sebuah benih yang kecil? Apabila kita memiliki sudut pandang yang salah terhadap benih yang kecil tersebut dan mengabaikannya, tidak menanamnya, membuangnya, maka benih tersebut selama-lamanya tidak akan mungkin menjadi sebuah pohon dan menghasilkan buah.

Buah Jeruk

Terkadang Tuhan memberikan kita sesuatu hal yang kecil, seolah-oleh sepele. Saat benih tersebut ditanam, kemudian disiram, bertumbuh mulai dari kecil, maka suatu saat nanti benih tersebut menjadi pohon yang lebat dan berbuah.

Jangan pandang remeh sesuatu hal kecil yang telah Tuhan berikan pada kita. Bisa tentang talenta, ujian, atau proses yang kita hadapi hari ini. Belajarlah untuk setia.

Kesimpulan

Akhir kata, belajar memandang apapun dari sudut pandang yang positif akan membuat kita untuk lebih menghargai setiap proses ataupun benih yang ada didalam hidup kita. Sekian, semoga bermanfaat. 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *