Menu

Pada post sebelumnya, tentang pilihan, manusia sepanjang hidupnya akan mengambil pilihan-pilihan. Entah itu pilihan kecil yang akan ber-impact beberapa jam kedepan atau pilihan yang akan merubah kehidupannya di masa yang akan datang.

Salah satu hal yang mempengaruhi pilihan kita adalah suasana hati kita. Suasana hati, ditentukan oleh respons hati kita. Saat kita memiliki respons yang benar, maka suasana hati kita bisa menjadi baik, begitu pula sebaliknya. Satu orang yang sama dengan masalah yang sama namun di waktu berbeda bisa saja akan memiliki suasana hati yang berbeda, karena bisa saja respons hatinya berbeda.

Simei mengutuki Daud (2 Samuel 16:5-14)

16:7 Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila!
16:8 TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.”
16:9 Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.”
16:10 Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?”

Kisah diatas adalah saat Simei mengutuki Daud dan melempari Daud dengan Batu. Bagi Daud, kejadian tersebut bukanlah hal yang mengenakkan terlebih posisi Daud saat itu adalah seorang raja dan ada rakyat serta pengawal di sekitarnya. Dengan kuasa yang ia miliki bisa saja Daud memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Simei tersebut, namun Daud lebih memilih untuk tidak melakukannya.

Daud beranggapan bisa saja Tuhan memakai Simei sebagai perpanjangan lidah bibir Tuhan. Untuk menyadarkan tindakan-tindakan Daud.

Respons hati Daud terhadap kutukan Simei dapat kita ambil sebagai renungan kita. Kita tidak bisa mengendalikan hal-hal yang ada di sekitar kita (external). Tetapi kita bisa mengendalikan respons hati kita (internal).

A Giant Heart

Ilustrasi: Suatu ketika hiduplah seorang anak muda. Suatu hari ia memutuskan untuk bunuh diri karena merasa kehidupannya tidak berguna lagi. Saat sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang kakek. Sang kakek merasa terpanggil menanyakan kondisinya karena mukanya yang murung tersebut.

“Hai anak muda, mengapa engkau terlihat murung?”, tanya Sang Kakek. “Saya merasa tidak berguna lagi, teman dan keluargaku menyalahkan saya atas kejadian yang menimpa saya”, jawab anak muda tersebut.

kemudian sang Kakek mengambil segelas air dan ia menambahkan segenggam garam kedalamnya. Ia menyuruh anak muda itu untuk meminumnya. “Bhuaaaahh! tidak enak rasa airnya, terlalu asin”, kata anak muda tersebut.

Kemudian sang kakek mengajak anak muda ini ke sebuah danau, sebuah danau yang besar dan masih murni airnya. Sang kakek mengambil garam dan menebarkannya ke dalam danau tersebut. Lalu ia menyuruh anak muda ini meminum airnya. “Rasa airnya tidak asin, malahan terasa segar kek”, kata anak muda tersebut.

Garam akan selalu asin namun yang membedakannya adalah seberapa besar penampang dari air tersebut. Saat kita punya hati yang besar maka seberapa banyak hal-hal yang tidak mengenakkan diluar, tidak akan membuat hati kita cepat asin/asam.

Jaga

Kita sadari atau tidak, bahwa segalanya dimulai dari hati kita. Hati kita ibarat pusat dari kehidupan kita. Hati adalah sumber kenginan dan keputusan kita.

Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Mengapa hati kita perlu dijagai? Ambil contoh saat kita mengenakan kacamata hitam, maka seluruh pandangan kita juga akan hitam. Tidak sejelas saat kita tidak menggunakan kacamata. Sama halnya dengan hati kita, saat tidak kita jagai dan kita ijinkan hal-hal buruk merusak hati kita, maka hal tersebut akan nampak dalam kehidupan kita.

Konklusi

  • Hati kita punya kapasitas, perbesar / upgrade terus kapasitas hati kita. Saat kapasitas hati kita kecil, maka hati kita dapat dengan mudahnya menjadi asin/asam.
  • Kita tidak dapat mengendalikan hal-hal atau tindakan orang lain diluar sana, namun kita dapat mengendalikan respons hati kita. Jadilah pengendali terutama dari hati kita.

Sekian post saya hari ini, semoga bermanfaat.

Referensi:
– Permainan Cantik, Jeffrey Rachmat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *