Menu

Beberapa hari ini mungkin kita mendengar berita tentang polemik antara PB Djarum (Perkumpulan Bulu Tangkis Djarum) dengan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). KPAI menyoalkan tentang penggunaan seragam berlogo Djarum Badminton Club saat audisi PB Djarum, yang mana dianggap sebagai bentuk eksploitasi anak.

Well, mungkin saya masih belum tahu akhir dari polemik tersebut. Namun di post ini, saya ingin membahas bagian “rokok” nya. Bukan dua pihak yang saya sebutkan diatas.

Masa kecil saya, iklan rokok di Televisi masih bebas. Maklum saat itu, Televisi adalah media favorit keluarga. Belum ada Internet atau Podcast. Saat itu iklan rokok masih boleh tayang sebelum jam 10 malam.

Di kotak rokok pun masih belum ada gambar-gambar dari bahaya rokok. Tulisan peringatan merokok pun belum “Merokok Membunuhmu” tetapi masih “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”.

Papa saya adalah seorang perokok, bukan perokok berat. Namun juga bukan perokok ringan. 1 hari mungkin bisa 1 bungkus lebih.

Rokoknya pun macam-macam. Sejauh yang saya ingat sejak SD: Mustang, Mr. Brown, Sampoerna A Mild, Sampoerna Kretek, Gudang Garam, Crystal, Bentoel, Dji Sam Soe, Djarum 76. Sejauh itu yang saya ingat, lainnya mungkin hanya sesekali.

Biasanya kotak rokok sisa dari Papa, saya simpan dan kumpulin. Saya tumpuk di suatu tempat sampai banyak. Kalau sudah banyak saya buat main Domino Chain Reaction. Buat yang belum tahu apa itu Domino Chain Reaction, bisa lihat gambar dibawah.

Selain Papa saya, adik Papa saya juga seorang perokok, setiap kali bertemu pasti mereka berdua merokok. Adik dari Mama pun juga begitu. Saat teman dari Papa datang kerumah pun juga begitu. Mereka semua merokok, sangat sedikit yang tidak merokok dari orang dewasa yang saya jumpai saat itu, perbandingannya adalah 80:20.

Nenek saya dari Mama pun merokok. Tapi beda case untuk yang satu ini. Nenek saya ini orang tinggal di daerah gunung, dan rokoknya pun lintingan. Jadi hanya untuk menghangatkan tubuh. Saya pernah sesekali menjilat kertas untuk melinting tembakaunya, yang manis itu.

Jadi, rokok adalah hal yang sangat biasa saat saya kecil. Saya tidak anti untuk itu atau langsung tidak suka dengan orang merokok.

Tapi apakah saya merokok? Saya bukan perokok.
Apakah saya pernah mencoba? Saya tidak pernah mencoba sekalipun.
Apakah kedepan akan mencoba merokok? I will never smoke.

Pernah suatu ketika, saat acara keluarga, adik perempuan dari Papa saya ngomel ke Mama saya begini:
Ini (sambil menunjuk ke anaknya) ngerokok gara-gara Koko (panggilan ke Papa saya), dulu kalau ke rumah mesti ngerokok“.

Lantas adik saya balas menjawab: “Lho, Koko (panggilan ke saya) sendiri ngga ngerokok lho“. Lantas terdiam keduanya.

Nah, yang ingin saya simpulkan dari post ini adalah merokok atau tidaknya seseorang bukan karena lingkungan. Bukan juga karena iklan Televisi atau Internet. Tetapi karena peran orang tua (Actually Mama saya aja ya untuk case ini) dan kesadaran diri sendiri tentunya.

Orang tua sangat memberikan peran penting dalam merokok atau tidaknya seorang anak. Tidak harus keras saat memberitahu, cukup diberikan pengertian agar anak mengerti apa bahaya dari merokok. Dari sana baru akan timbul kesadaran dari dalam diri anak.

Sekian post saya hari ini. Bukan belajar menggurui tentang rokok tetapi just share pengalaman saya tentang rokok.

Btw saya tidak lihat lagi sponsor “Mission Winnow” di mobil Ferrari F1.

note: Mission Winnow adalah tagline / brand yang diusung perusahaan Rokok Philip Morris untuk mempromosikan kegiatan mereka di luar bisnis rokok.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *