Menu

Story 1

Kemarin pagi, sebelum berangkat ke kantor saya menyempatkan membuka Google PlayBook dari handphone saya. Kebiasaan saya saat melihat-lihat buku adalah melihat covernya terlebih dahulu. Saya suka design cover buku yang simple, minimalis, flat design, dan ngga “ramai”. Jadi idiom “Don’t judge a book by its cover” sedikit tidak berlaku bagi saya.

Tapi pagi ini saya lihat sebuah buku, judulnya menarik, tapi covernya ramai. Saya sudah skip berkali-kali sambil melihat-lihat buku yang lainnya.

Akhirnya saya coba pakai idiom tadi, saya buka buku tersebut. Saya lihat samplenya. Ternyata penulis buku tersebut adalah seorang public speaker, saya pernah mendengar saat dia berbicara. Bagus.

Tanpa mikir panjang dan tanpa lihat covernya lagi, saya beli buku tersebut karena saya percaya dengan penulisnya.

Story 2

Dulu, saat akan potong rambut, saya selalu takut. Takut hasil akhirnya tidak sesuai dengan keinginan saya.

Sampai suatu ketika, beberapa tahun lalu, saya dipotong oleh teman saya sendiri. Ditengah potong, dia berkata seperti ini: “Ndri, kamu kalau potong mestinya trust your hairstylist, karena dia yang paling tahu seperti apa yang cocok dengan rambutmu”, Ujarnya.

Saya tidak tahu kenapa teman saya berkata demikian. Mungkin karena saya sering memberikan instruksi atau mungkin wajah saya cemberut saat potong. Entahlah. Tapi yang pasti, kata-kata tersebut punya impact buat saya.

Sejak saat itu, saat potong rambut, saya selalu memberikan sedikit instruksi diawal, dan tidak terlalu banyak berkomentar. Apapun hasilnya, terlalu tipis atau masih agak panjang.

Dan menurut pengamatan saya, ternyata “Trust your hairstylist” tidak buruk juga. Saya jadi bisa lebih santai saat potong, tidak khawatir apapun hasilnya. Pun selama 4 tahun ini tidak pernah sampai buruk hasilnya.

Pesan moral yang dapat kita ambil dari dua cerita diatas adalah saat kita percaya (trust) dengan seseorang, maka kita tidak akan khawatir mengenai proses atau hasil akhirnya.

Trust vs Believe

Dua kata diatas memiliki arti yang hampir sama, yaitu tentang kepercayaan. Tetapi ada yang berbeda dari kedua kata tersebut. Kata trust memiliki arti yang lebih luas dibandingkan kata believe.

Ilustrasi

Suatu hari ada seorang kakek tua, pekerjaan sehari-harinya adalah pemain akrobat di sebuah sirkus. Ia bekerja berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Pertunjukkan yang disuguhkan kakek ini adalah berjalan dari satu titik ke titik lainnya menggunakan sebuah tali dan tanpa pengaman.

Sebelum pertunjukan dimulai, ia bertanya kepada pengunjung, “Apakah anda yakin bahwa saya akan berhasil berjalan dari satu titik ke titik lainnya?”. Hampir semua pengunjung menjawab bahwa ia akan berhasil.

Sang kakek pun memulai aksinya dengan perlahan-lahan. Ia pun berhasil berjalan dari satu titik ke titik lainnya menggunakan tali tersebut. Selanjutnya, ia sedikit mengubah pertunjukannya dan akan menggunakan sepeda roda satu untuk menyusuri tali tersebut.

Sekali lagi sang kakek bertanya kepada pengunjung, “Apakah anda yakin bahwa saya akan berhasil menaiki sepeda dari satu titik ke titik lainnya?”. Hampir semua pengunjung menjawab bahwa ia akan berhasil. Ia pun melakukan aksinya, tanpa ragu ia pun berhasil sampai ke ujung satunya.

Sang kakek pun mengubah pertunjukkannya. Kali ini ia akan menaiki sepeda dari satu titik ke titik lainnya dan akan menggendong salah satu pengunjung di pundaknya. Ia pun menawari kepada penonton untuk menjadi volunteer, namun semua penonton tidak ada yang mau.

Sampai beberapa waktu kemudian ada seorang anak kecil yang maju dan memberikan diri menjadi volunteer. Sebelum memulai aksinya, sang kakek bertanya kepada anak kecil tersebut, “Hai anak muda, mengapa engkau berani mengajukan diri, padahal aksi ini berbahaya dan tidak ada satupun yang berani?”. Sang anak pun menjawab, “Karena saya percaya penuh kepada kakek”.

Believe artinya kita hanya percaya saja tanpa memiliki faktor resiko atau konsekuensi, berbeda dengan Trust yang mana kita bisa sampai mempercayakan diri kita didalamnya. Believe hanya sampai di mulut namun trust berarti kita ikut ambil bagian dan melakukan tindakan.

Abraham

Di Alkitab, di Kejadian 12:1-4 diceritakan saat Abraham dipanggil Allah untuk pergi dari negeri yang didiaminya (Haran) menuju ke Tanah Kanaan.

12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Saat kita mendapatkan janji dari seseorang maka secara tidak langsung itu menunjukkan tingkat kepercayaan kita terhadap si pemberi janji. Saat Abraham berani melangkah keluar dari tanah asalnya, sebenarnya tidak ada jaminan bahwa hidupnya jauh lebih baik. Namun karena iman percaya Abraham, ia berani melangkah keluar tanpa membantah atau menawar.

Disini Abraham memiliki rasa “Trust” kepada Allah dan bukan sekedar “Believe”. Ia berani menresikokan kehidupannya tanpa mengetahui apa yang akan terjadi di depan. Terkadang rasa kekhawatiran kita membuat kita tidak berani memberikan “Trust” kepada Tuhan.

Jika hari ini kita percaya bahwa Tuhan adalah penulis cerita kehidupan kita dan memiliki tujuan/purpose atas kehidupan kita maka sikap yang harus kita berikan adalah “Trust” dan bukan sekedar “Believe”. Sebuah cerita/film yang bagus bukan tergantung tokoh atau pemain yang ada di dalamnya, tapi dari siapa yang menulis ceritanya.

Banyak tokoh di Alkitab yang kita kenal hari ini, memiliki kehidupan yang luar biasa. Namun hanya ada satu penulisnya, yaitu Tuhan. Jangan pernah ragukan Tuhan sebagai penulis cerita hidupmu. Happy Sunday and God Bless!

Note: Not only Sunday but also Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, and Satuday. 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *