Menu

Ada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa dalam sehari, seorang dewasa akan membuat sekitar 12 keputusan sebelum jam 9 pagi. Dan kurang lebih ada total 70 keputusan dalam sehari.

Contoh paling sederhana adalah ketika kita memilih untuk snooze alarm kita atau memilih untuk bangun tidur. Atau mungkin kita memilih untuk berangkat ke kantor atau cuti.

Mengambil keputusan adalah suatu bagian dari kehidupan kita sehari-hari, entah besar atau kecil, entah kita sadari atau tidak. Setiap keputusan yang kita ambil akan memiliki efek / dampak di masa depan, entah secara jangka pendek ataupun jangka panjang.

Contoh sederhananya adalah saat kita memilih untuk tidak makan di siang hari karena banyaknya aktivitas, padahal kita tahu apabila kita terlambat / tidak makan, maka sakit maag kita akan kambuh. Dampak dari keputusan ini sudah jelas bisa diprediksi, saat maag kambuh maka ada banyak aktivitas yang tidak bisa kita lakukan / tertunda karenanya.

Mari kita sedikit berimajinasi melalui ilustrasi dibawah.

Bayangkan anda sedang melakukan suatu perjalanan ke sebuah kota yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Di suatu titik anda berhenti di dekat lintasan kereta api.

Di sisi kiri terdapat 2 kelompok anak kecil yang sedang bermain. Kelompok pertama berjumlah sekitar 12 orang anak yang bermain-main di rel kereta api yang sedang aktif. Kelompok kedua berjumlah sekitar 4 orang anak yang bermain-main di rel kereta api yang tidak aktif.

Tiba-tiba dari sisi kanan anda, datanglah sebuah kereta api dengan kecepatan tinggi dan anda sudah tidak punya waktu untuk memberikan warning kepada anak-anak kecil tadi. Sedangkan anak-anak tadi sudah sangat fokus kepada permainannya sehingga tidak sadar ada kereta api yang akan melintas.

Namun ditengah kepanikan anda, ternyata di dekat anda terdapat panel / switch untuk memindahkan jalur kereta api dari jalur aktif ke jalur yang tidak aktif.

Pertanyaannya, apabila anda benar-benar di posisi tersebut. Siapa yang anda pilih untuk selamatkan? kelompok anak pertama yang jumlahnya lebih banyak atau kelompok anak kedua yang jumlahnya lebih sedikit? (Jika anda memiliki jawaban bisa ditulis pada comment 😀 )

Mari kita berpikir sejenak…..

Jika kita bisa berpikir lebih bijak, mungkin kita tidak akan memindahkan switch kereta api tersebut ke jalur yang tidak aktif. Karena buat apa harus menyelamatkan 12 anak yang sejak kecil tidak tahu mana tempat yang aman untuk bermain bagi mereka, bisa jadi saat dewasa nanti mereka juga akan membahayakan keluarga mereka. Lebih baik memilih untuk menyelamatkan 4 orang namun mereka lebih punya prospek di masa depan.

Atau mungkin dengan memindahkan ke jalur yang tidak aktif, malah bisa membahayakan seisi penumpang kereta api tersebut. Karena bisa saja jalur yang tidak aktif itu tidak aman.

Atau mungkin kita bisa tetap cuek saja tanpa harus memilih siapa yang akan kita selamatkan dan tetap melanjutkan perjalanan anda.

Sebenarnya tidak ada jawaban benar atau salah dari ilustrasi diatas. Jika kita memilih 12 anak tersebut, itu adalah sebuah keputusan. Memilih 4 anak lainnya, itu adalah sebuah keputusan juga. Pun tidak memilih dan cuek juga sebuah keputusan.

Artinya adalah keputusan akan selalu ada di setiap kehidupan kita, sekalipun kita memilih cuek terhadap semua pilihan, itu juga merupakan keputusan. Kita baru akan selesai untuk tidak membuat keputusan adalah saat kita sudah tidak di dunia ini lagi. So, be wise with your choice.

Btw, kita mau melanjutkan membaca post ini juga merupakan keputusan lho! 😀

Jadi hal-hal apa saja yang mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan? Menurut Ps. Jeffrey Rachmat, ada 7 hal yang mempengaruhi keputusan kita:

1. Prioritas
Prioritas kita akan menentukan keputusan kita. Ambil contoh, ketika kita bekerja dari hari Senin s.d. Jumat dari jam 8 pagi hingga 5 sore, prioritas kita yang terutama adalah bekerja. Apabila ada teman kita tiba-tiba mengajak hangout, maka dengan pasti kita akan menolaknya. Karena pada saat jam-jam tersebut, prioritas kita adalah bekerja.

Jadi, susunan prioritas kita akan menentukan hal-hal apa yang penting dalam kehidupan kita.

2. Harga / Nilai
Harga yang kita berikan terhadap sesuatu atau harga yang berani kita bayar akan mempengaruhi keputusan yang akan kita ambil. Ambil contoh, seorang kolektor barang antik akan lebih mampu menghargai atau akan berani bayar harga lebih mahal dalam menilai barang antik yang dijual ketimbang seseorang yang bukan kolektor.

Di Alkitab, ada sebuah perumpamaan tentang anak bungsu yang meninggalkan bapanya. Saat anak itu jatuh bangkrut, dunia memandangnya tidak berharga, namun saat anak bungsu kembali ke bapanya maka yang bapanya lakukan adalah mengembalikan nilai diri anak tersebut. Bapanya langsung memakaikan Jubah, Sepatu, dan Cincin.

Out of Topic: Jadi jangan pernah memandang diri kita rendah atau tidak bernilai menurut ukuran dunia. Tuhan memandang kita begitu bernilai dan berharga.

Jadi, bagaimana cara kita menilai sesuatu akan menentukan pilihan kita. Seperti yang bapa anak bungsu atau dunia lakukan sungguh berbeda. Bapa anak bungsu menilai anak itu bukan melihat apa yang ia miliki, namun dunia menilai anak bungsu tersebut hanya dari apa yang ia miliki. Begitu anak bungsu tidak memiliki harta lagi, dunia tidak memandangnya berharga lagi.

3. Cara Berpikir (Self Esteem)
Cara kita berpikir tentang diri kita akan menentukan keputusan yang akan kita ambil. Ambil contoh, ada seorang majikan mengajak makan baby sitter ke sebuah restaurant all you can eat. Saat makan, sang majikan mengambil makanan berkali-kali, sedangkan sang baby sitter hanya mengambil makanan secukupnya. Sang baby sitter mengambil makanan secukupnya hanya karena merasa lebih rendah diri dibandingkan majikannya.

Sebenarnya ketika kita perhatikan, harga makanan yang dibayarkan untuk membayar majikan dan baby sitter tersebut sama, namun cara masing-masing individu memandang dirinya bisa berbeda-beda.

Bukan hanya harga, namun cara kita berpikir tentang diri kita juga akan menentukan keputusan kita.

4. Input
Input bisa berarti apa yang kita dengar, baca, atau lihat. Baik secara rohani ataupun secara sekular. Input sangat mempengaruhi output. Jika kita sering menerima input yang kurang baik, maka sangat besar kemungkinan apa yang kita lakukan juga kurang baik.

Tea

Ilustrasi: Saat kita menyedu teh dalam sebuah poci, maka saat kita menuang poci tersebut ke dalam sebuah gelas, yang keluar adalah teh. Bukan kopi. Karena yang kita masukkan adalah teh.

Roma 10:17. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Dari ayat diatas kita bisa belajar, apabila kita ingin memiliki iman, maka rajin-rajinlah mendengar atau membaca firman Tuhan.

5. Suasana Hati
Ada sebuah pepatah mengatakan:

“Jangan mengambil keputusan saat sedang marah atau jangan berjanji saat sedang senang.”

Mengapa marah dan senang? karena ketika kondisi kita sedang marah atau senang dengan kata lain emosi kita sedang tidak dalam kondisi stabil.

Mazmur 37:8. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Untuk mengambil keputusan dengan tepat, sangat baik ketika kondisi kita sedang tenang dan stabil. Ambil contoh ketika kita sedang jatuh cinta, maka akan sangat besar kemungkinan kita mengambil keputusan yang salah karena hati kita tidak dalam kondisi yang stabil. 😀

6. Persediaan (Availability)
Ambil contoh, hari ini saya membeli mouse secara Online. Saat datang, warna mouse pesanan saya tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Kemudian saya komplain kepada penjual dan beruntunglah bisa ditukar.

Seandainya warna yang saya pilih tidak tersedia, maka mau tidak mau saya akan tetap menggunakan mouse yang warnanya tidak sesuai dengan pilihan saya. Karena saya membutuhkannya.

Jadi, persediaan sangat mempengaruhi keputusan kita.

7. Siapa yang ada disekeliling kita

Amsal 15:22. Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.
Amsal 24:6. Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.

Dari kedua ayat diatas dapat kita lihat bahwa rancangan dapat menjadi terlaksana dan perang dapat dimenangkan apabila terdapat penasihat. Mengapa harus memiliki penasihat? karena kadangkala pemikiran kita hanya memandang dari satu sisi dan orang-orang yang ada di sekeliling kita mungkin bisa melihat dari sisi yang berbeda, sisi yang tidak bisa kita lihat.

Bisa jadi juga karena orang-orang yang ada disekitar kita lebih memiliki pengalaman sehingga lebih mengerti tentang masalah yang terjadi.

Penasihat bisa berarti orang-orang yang ada di sekeliling kita atau orang-orang yang kita percayai. Namun untuk kata-kata penasihat yang banyak jangan disalahartikan kita harus meminta pendapat kepada setiap orang yang ada di sekeliling kita, karena akan malah membingungkan kita. Mintalah nasihat dari orang-orang yang kita pandang mampu dan kredibel.

Kita ambil contoh dari Alkitab. Dari Kejadian Pasalnya yang ke 3. Saat Adam dan Hawa jatuh didalam dosa. Sebenarnya ular tidak secara langsung menghasut Adam, namun melalui Hawa. Dari Hawa barulah kemudian buah pohon pengetahuan diberikan kepada Adam.

Dari ayat diatas bisa kita tarik sebuah kesimpulan bahwa orang-orang yang ada disekitar kita (bisa pergaulan, komunitas, atau pasangan kita) bisa memberikan dampak untuk setiap keputusan kita. Oleh karena itu bijak-bijaklah dalam memilih siapa yang ada di sekeliling kita.

Kembali lagi ke topik.

“Keputusan kita di masa lalu menentukan kita hari ini dan keputusan kita hari ini akan menentukan kita di masa yang akan datang.”

Akhir kata, biarlah post ini bisa berguna buat yang membaca dan biarlah post ini bisa menjadi pengingat buat saya secara pribadi (Yang telah banyak membuat kesalahan). Jangan takut mengambil keputusan yang salah. Tapi jangan lupa belajar dari setiap keputusan yang salah. 🙂

See you!

Sumber:
– Rekaman Kotbah Jeffrey Rachmant “The Power of Choice”
– Huffpost “The Power of Choice”
– Ilustrasi lupa dari mana

2 Comments for "The Power of Choice"

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *